MAPALA ALFEDYA

MAPALA ALFEDYA
Logo MAPALA ALFEDYA

Rabu, 13 Januari 2010

Caving: Rigging & Tekhnik Penelusuran Goa

Rigging (Teknik Pemasangan Lintasan)

Salah satu bentuk kegiatan dalam speleologi adalah caving. Berdasarkan bentuk guanya maka ada dua jenis penelusuran gua yaitu penelusuran gua vertical penelusuran gua horizontal. Teknik pemasangan lintasan tali untuk gua-gua vertikal dengan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat rigging yang baik :
1.Aman dilewati oleh semua anggota tim
2.Tidak merusak peralatan
3.dapat dilewati oleh semua anggota tim
Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui sebelum memulai pembuatan sebuah lintasan vertical yang nantinya akan

membantu untuk mencapai syarat-syarat rigging yang baik

VIII. Anchor

Dalam memasang sebuah lintasan kita terlebih dahulu harus memilih point tambatan. Point atau obyek yang akan di jadikan tambatan di sebut anchor. Berdasarkan jenisnya, anchor di bagi menjadi anchor alami (natural anchor) dan anchor buatan. Contoh-contoh anchor alami/natural anchor :
1.Pohon.
Sebelum kita memakai jenis ini, kita harus memeriksa umur pohon yang dapat kita lihat dari besarnya, posisi pohon, maupun kondisi dari pohon tersebut

2.Lubang tembus
Sebuah lobang yang bisa kita temui di dinding, lantai maupun atap gua. Kita harus memeriksa kekerasan batuan, keutuhan dan struktur dari batuan tersebut sebelum kita memutuskan untuk memakainya.

3.Rekahan
Atau celah yang bisa terbentuk dari penglisan lapisan (horizontal) maupun crek (vertical). Kita harus selalu memperhitungkan bentuk celah arah penyempitan celah dan arah tarikan yang akan di terima

4.Chock stone
Batu yang terjepit pada sebuah celah schin, berfungsi sebagai pengaman sisip sehingga sering di sebut natural chock

5.Stalaktit dan stalakmit
Untuk jenis ini hanya di pakai sebagai anchor deviasi karena tidak boleh mendapat beban yang besar.

Berdasarkan posisi dan urutan mendapatkan beban, maka anchor di bedakan menjadi
1.Main anchor (anchor utama), yaitu anchor yang secara langsung mendapatkan beban saat lintasan di gunakan.
2.Back up anchor, berfungsi sebagai anchor cadangan bagi main anchor jika main anchor terlepas atau jebol

IX Teknik penelusuran gua vertikal

1. Cimneying.
Apabila kita menemukan dan harus melewati lorong sempit, vertikal dan hanya cukup dengan badan kita, maka posis kita menggunakan tiga tumpuan untuk menaiki/melewati lorong tersebut dengan bertumpuan tangan, punggung, kaki atau lutut seperti orang yang bersandar pada dinding.
2. Bridging
Jika lorong yang kita lalui sempit, vertikal dan hanya cukup di lewati oleh badan kita, maka posisi yang tepat yaitu dengan menggunakan empat tumpuan pemanjatan.
Yaitu kedua kaki dan kedua tangan yang bertumpu pada dinding gua
3. Single Rope Teknik
kadang-kadang kita menemukan gua/lorong yang berbentuk vertikal atau sumuran. Maka kita menggunakan teknik penelusuran dengan satu tali yang menggunakan beberapa peralatan.

X. Teknik Penelusuran Gua Horizontal

Medan pada gua horizontal sangat bervariasi. Mulai pada lorong-lorong yang dapat dengan mudah di telusuri, sampai lorong yang membutuhkan teknik khusus untuk dapat melewatinya.
1.Lumpur
Untuk melewatinya, kita bergerak dengan posisi seperti berenang. Dengan posisi seperti ini akan lebih mudah untuk melewatinya dan menghemat tenaga.
2.Air
Untuk melewatinya kita harus diving, yaitu teknik penyelaman dengan alat bantu pernapasan dan baju khusus. Untuk perbandingan resiko kematian pada cave diving adalah 60% tewas, sedangkan resiko caving 15% tewas
3.Vertikal
Dalam suatu penelusuran gua terkadang kita menjumpai adanya waterfall ataupun lorong yang terletak di atas kita

4.Teknik-teknik melewat lorong
Crawlng (merangkak)
belly-crawling
squeezing
ducking

Caving: Pengenalan Peralatan
1. Personal Equipment
a. Helm Speleo
Helm yang di rancang untuk mampu menahan benturan maupun jatuhan batru dari berbagai sisi dan ketinggian tertentu. Mempunyai bagian yang berupa pita yang adjustable digunakan untuk mengikatkan helm pada kepala kita.
b.Boom.
Alat ini berupa tabung yang di hubungkan dengan sebuah slang ke helm. Terdiri dari dua bagian, tabung alas berguna untuk menampung air yang di lengkapi dengan regulator saluran gas dan lobang tempat pengisian air. Tabung bawah di gunakan untuk mengisi karbit.
c.Alat penerangan
a.Elektrik : senter, head lamp
b.Non-elektrik : karbit, lilin
d.Cover all
Adalah sebuah pakaian khusus untuk penelusuran gua. Pakaian ini pada bagian baju dan celana tersambung jadi satu. Bagian atas berlengan panjang. Coverall terbuat dari parasut yang tidak terlalu tebal. Pakaian ini berfungsi untuk melindungu tubuh kita dari gesekan dan menahan panas tubuh kita pada gua yang berair.

e.Sepatu
Sepatu yang biasa di gunakan adalah sepatu karet dan sepatu yang biasa di gunakan militer. Keduanya punya kelemahan dan kelebihan masing-masing.
f.Sarung tangan
Berfungsi untuk melindungi tangan dari panas karena gesekan tali ataupun melindungi tangan dari gesekan dengan dinding gua yang tajam dan kasar.
g.Pelampung

h.SRT set
Peralatan ini menjadi peralatan pribadi untuk efisiensi tenaga dan efektifitas penelusuran, karena beberapa peralatan yang ada disesuaikan dengan tubuh pemakai.
a. Seat harness.
Di gunakan untuk mengikat tubuh yang di pasang pada pinggang dan paha, macam dan bentuk seat harness yang biasa di pakai adalah
Avanti
Croll
Rapide
Fractio
b.Ascender
Peralatan ini di gunakan untuk naik atau memanjat lintasan (tali). Ascender dibedakan menjadi dua, yaitu hand ascender yang digunakan untuk dipegang di tangan dan chest ascender yang di gunakan untuk di ikatkan di dada. Macamnya yaitu :
Hand jummar
Croll
Basic jummar
Jumar
c.Descender
Digunakan untuk memuat lintasan(tali), ada banyak descender yang di gunakan
Capstand : simple stop descender (bobin/non auto stop) dan auto stop descender
Whaletail, biasa digunakan para caver di Australia.
Rack : Open dan Close rack
Figure of eight
d.Mailon Rapide (MR)
Ada tiga macam, yaitu :
Delta MR, digunakan untuk menyambung (dua loop) seat harness
Semi Circular MR, digunakan untuk menyambung (dua loop) seat harness
Oval MR, digunakan untuk menyambung chest ascender dengan delta MR atau semi circular MR
e.Chest Harness
Di gunakan untuk mengikat seat harness dengan dada
f.Cows tail
Di buat dengan tali dinamik yang di simpul; dengan salah satu talinya lebih pendek. Tali yang pendek di gunakan sebagai pengaman/tambatan pengaman. Tali yang panjang di gunakan untuk menghubungkan hand ascender dengan tubuh. Di kedua ujung cowstail tersebut di pasang dua karabiner delta non screw
g.Foot loop
Di gunakan untuk pijakan kaki dan di hubungkan dengan ascender. Ada beberapa macam bentuk foot loop yang biasa di gunakan.
2. Team Equipment
a. Tali
Tali yang di gunakan harus benar-benar mempunyai kualitas yang baik dan memerlukan perawatan yang baik pula. Jenis tali di bagi menjadi :
Hawsterlet
Jenis ini tidak di pakai dalam penelusuran gua vertical. Berbentuk lilitan dari bahan nilon
Kernmantel
Di sebut jenis kernmantel karena mempunyai dua bagian yaitu bagian kern (bagian dalam/inti) dan mantel (bagian luar/pembungkusnya). Untuk vertical caving di gunakan jenis static rope. Kekuatan tali yang di gunakan biasanya harus mengalami uju kekuatan terlebih dahulu.
b.Ladders
Ladders atau tangga tali biasanya terbuat dari kawat baja atau dari tali dengan diameter tertentu (lebih kecil dari diameter tali yang di gunakan untuk vertical caving)
c.Tali pita (Webbing)
Berbentuk tabung ataupun pipih(plate), sangat berguna untuk pemasangan tambatan alam, deviasi maupun bentuk tambatan lainnya
d.Padding
Padding adalah pelindung tali dari gesekan. Biasanya di buat dari bahan terpal yang kuat menerima gesekan

e.Carabiner (cincin kait)
Fungsi alat ini sebagai pengait. Carabiner mempunyai beberapa macam bentuk sesuai dengan kegunaan dan fungsinya. Tiap produk carabiner yang ada telah mengalami uji kekuatan dari pabriknya untuk tarikan vertical maupun horizontal.
Berdasarkan pengamannya, carabiner dibagi menjadi :
Carabiner Screw Gate, jenis ini mempunyai pengunci pada pintu atau gerbangnya
Carabiner Non Screw Gate, jenis in tidak mempunyai pengunci pada pintu atau gerbangnya.
Berdasarkan bentuknya, carabiner dibagi menjadi :
Oval Carabiner. Jenis ini di rancang jika mendapat beban maka kedua sisinya, sisi utuh maupun sisi pintu, mendapat beban yang sama
Delta Carabiner. Jenis ini di rancang jika mendapat beban maka kedua sisinya mendapat beban yang berbeda. Sisi utuh mendapat beban lebih besar dari pada sisi pinti
D Carabiner. Jenis ini di rancang jika mendapat beban maka kedua sisinya mendapat beban yang berbeda. Sisi utuh mendapat beban lebih besar dari pada sisi pintu.
A Carabiner. Jenis ini di rancang jika mendapat beban maka kedua sisinya mendapat beban yang berbeda. Sisi utuh mendapat beban lebih besar dari pada sisi pintu.
Hart Carabiner. Jenis ini di rancang jika mendapat beban maka kedua sisinya mendapat beban yang sama.
f.Pengaman Sisip
Pengaman sisip adalah peralatan tambahan untuk membuat tambatan. Penggunaan pengaman sisip sangat tergantung pada bentuk bawaan batuannya. Pengaman sisip yang sering di gunakan yaitu :
Chock Stopper. Jenis ini berbentuk piramida tumpul. Bisa di gunakan untuk celah vertical maupun horizontal
Hexentrik. Bisa di gunakan untuk celah vertical maupun horizontal
Friend. Jenis ini digunakan untuk dibebani secara vertical
Chock Stone. Jenis ini bekerja seperti pengaman sisip lainnya.
Bisa tetpasang dengan sendirinya (batu yg terjatuh lalu terjepit pada celah), maupun sengaja di pasang.
Jammed Knot. Teknik yang memasang pengaman sisip dengan menggunakan simpul pada webbing.
g.paku Pitton
Adalah salah satu bentuk pengaman tambahan yang berbentuk seperti palu yang di tanamkan pada celahvertical maupun horizontal.
h.Bolts.
Pada penelusuran gua vertical, jika kita tidak bisa menemukan natural anchor maupun pemasangan pengaman sisip lainnya, maka satu-satunya pilihan adalah pemasangan bolts (bor tebing)
i.Hanger.
Peralatan ini adalah pasangan dari bolts. Hanger ini di gunakan untuk menambatkan tali. Bentuk-bentuk yang ada di sesuaikan dengan medan yang ada. Macam hanger yang ada :
Plate hanger
Jenis ini di gunakan untuk dinding yang tidak overhang, carabiner yang digunakan adalah carabiner oval. Sisi carabiner harus selalu menempel dinding.
Twiste hanger
Jenis ini digunakan untuk dinding overhang maupun untuk roof. Carabiner yang di gunakan bisa carabiner oval maupun carabiner delta.
Ring hanger
Jenis ini digunakan untuk dinding overhang maupun dinding lurus. Carabiner yang di gunakan bisa carabiner oval maupun carabiner delta. Juga bisa tanpa carabiner
Clown hanger
Jenis ini bisa di gunakan di semua bentuk medan, hanger ini tidak menggunakan carabiner

j.Driver
Di gunakan untuk mengebor dinding atau tebing

k.Hammer
Di gunakan untuk mengetes batuan yang akan di gunakan untuk anchor juga untuk mengebor tebing
l.Tackle bag
Tas khusus untuk penelusuran gua, terbuat dari bahan terpal yang tahan gesek
m.Pulley
Berbentuk kerekan yang prinsip kerjanya untuk memperingan penarikan beban. Biasanya digunakan untuk rescue

Caving: Bahaya Penelusuran Goa
" Most people who have never explored caves have a conviction that speleology is a sport approriate for a psychopath with a deathwish. "
Ungkapan diatas adalah suatu ungkapan yang berpendapat bahwa penelusuran gua adalah sebuah kegiatan yang beresiko tinggi. Karena itulah kecelakaan sering terjadi pada kegiatan ini.
Sayangnya kurangnya publikasi karena berbagai alasan tertentu menjadikan para penggiat kegiatan ini tidak mendapatkan

referensi yang cukup. Ada banyak jenis kecelakaan yang bisa terjadi dalam gua (lihat materi bahaya gua)
1. Faktor Manusia
Faktor manusia adalah faktor yang paling besar dalam bahaya penelusuran gua. Hal ini di sebabkan seringnya melakukan tindakan yang di luar batas kemampuannya serta tidak memperhitungkannya dengan cermat antara keadaan goa dengan tingkat kemampuannya, seperti :
a.Ceroboh
kurangnya persiapan untuk menyusuri gua
terpeleset karena tidak menggunakan sepatu yang aman atau salah memilih pijakan yang labil
terantuk stalaktit karena tidak menggunakan helm
b.Tersesat
kurangnya sumber cahaya bahkan habis
terlena oleh keindahan gua
terlalu lelah
kurang pengamatan terhadap jalur
c.Tenggelam karena tidak dapat berenang, tidak dapat melakukan cave divind dll
d.Kurang mahir dalam teknik SRT
tidak mengunci descender
salah memasang rigging
carabiner terbuka
salah memilih anchor

e.Kedinginan
kurangnya kalori
tidak membawa pakaian ganti
terlalu lama berendam dalam air,dll
f.Dehidrasi
haus berlebihan karena kurang minum dalam gua yang pengap dan sirkulasi yang tidak lancar
g.Salah dalam pembagian tim
tidak sesuai kemampuan
kurang kompak
pembagian kerja tidak merata
h.Gengsi yang terlalu tinggi
tidak mengakui kekurangan dir sendir/sombong
sifat yang sok pamer
2. Faktor Peralatan
kadangkala peralatan dapat menimbulkan kecelakaan di karenakan kemampuan peralatan itu sendiri, seperti :
a.Berkurangnya kualitas peralatan, misalnya jahitan harnest lepas, spuyer macet, lampu senter putus
b.Salah dalam penggunaan peralatan
c.Beban yang berlebihan dari batas maksimal peralatan
3. Faktor Gua dan Alam
sebenarnya kondisi dari gua atau alam itu sendiri sangat mempengaruhi jadi atau tidaknya kita menelusuri gua. Bahaya-bahaya dari faktor alam itu antara lain :
a.Keruntuhan atap seperti umur gua yang terlalu tua sehingga sudah tidak bisa menahan beban di atasny, gempa bumi yang kuat, adanya suara yang sangat kuat, dll
b.Gas beracun, seperti: minusnya O², adanya gas sulfur, ledakan asetelin atau karbit, banyaknya CO², tumpukan guano/fosfat, dll
c.Banjr mendadak yang tidak di ketahui
d.Tersambar petir
e.Gigitan binatang berbisa seperti kalajengking, black widow, lipan hijau, ular berbisa, ikan kipas, jangkrik bersungut biru baik yang terdapat di dalam maupun luar gua.
f.Penyakit akibat virus, gigitan kuku kelelawar, keracunan bahan pencemar air, luka yang terkena guano, dll
4. PENANGANAN MEDIS
a.Stabilisasi gangguan umum .
b.Menangani perlukaan, menghentkan pendarahan, imobilisasi patah tulang dan dislokasi
c.Stabilisasi gangguan khusus.
Jika kondisi korban memerlukan penanganan khusus maka harus diputuskan salah seorang anggota tim keluar untuk mendapatkan pertolongan dari tim rescue lain,
sementara itu anggota tim yang tinggal menjaga kondisi korban agar tidak menurun, menjaga korban agar tetap merasa hangat, dan menenangkan korban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jalur Barat Laut

Jalur Barat Laut
Jalur Barat Laut